Rabu, 25 September 2013

MAKALAH GANGGUAN ARTERI KORONER



MAKALAH GANGGUAN ARTERI KORONER
(Dengan Dosen Pembimbing Ibu dr. Septiana Citradewi)





Kelompok   : 6
1.     Marlida Yuliza Manjorang       12340051
2.     Made Rauh Ratna Dewi           12340050
3.     Lilis Setiawati                          12340047
4.     Melinda                                    12340052



PROGRAM STUDY DIV KEBIDANAN 2012/2013
UNIVERSITAS MALAHAYATI
BANDAR LAMPUNG

Kata Pengantar
Rasa syukur yang kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa berkat kemurahan-Nya makalah GANGGUAN ARTERI KORONER ini dapat kami selesaikan sesuai yang diharapkan. Kami menyadari, bahwa proses penulisan makalah ini masih jauh dari kata sempurna baik materi maupun cara penulisannya. Namun demikian, kami telah berupaya dengan segala kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki sehingga dapat selesai dengan baik dan oleh karenanya, kami dengan rendah hati dan dengan tangan terbuka menerima masukan, saran dan usulan guna penyempurnaan makalah ini di kemudian hari.
Kami sadari pula, bahwa dalam  pembuatan makalah ini  tidak lepas dari bantuan berbagai  pihak. Untuk itu dalam kesempatan ini kami menghaturkan rasa hormat dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ibu dr. Septiana Citradewi selaku Dosen pembimbing mata kuliah Ilmu Penyakit dan kepada semua pihak yang membantu dalam pembuatan makalah ini.


Bandar Lampung, Maret 2013


Kelompok 6









DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang..............................................................................................       1
1.2    Rumusan Masalah ........................................................................................       2
1.3    Tujuan...........................................................................................................       3
BAB II PEMBAHASAN
2.1       Anatomi..............................................................................................            ......      4
2.2       Fisiologi............................................................................................. ......      7
2.3       Definisi...............................................................................................            ......      8
2.4       Etiologi...............................................................................................            ......      8
2.5       Faktor Resiko....................................................................................  ......      9
2.6       Patologis...........................................................................................  ......      11
2.7       Manefestasi Klinis/Gejala.................................................................. ......      12
2.8       Diagnosis........................................................................................... ......      13
2.9       Penatalaksanaan................................................................................. ......      16
2.10     Pencegahan.......................................................................................  ......      19
BAB III PENUTUP
3.1  Kesimpulan..................................................................................................        22
3.2  Saran.............................................................................................................       23
DAFTAR PUSTAKA






BAB I
PENDAHULUAN
1.1            Latar Belakang
Penyakit jantung koroner merupakan kasus utama penyebab kematian dan kesakitan pada manusia. Meskipun tindakan pencegahan sudah dilakukan seperti pengaturan makanan (diet), menurunkan kolesterol dan perawatan berat badan, diabetes dan hipertensi, penyakit jantung koroner ini tetap menjadi masalah utama kesehatan. Masalah utama pada penyakit jantung koroner adalah aterosklerosis koroner. Merupakan penyakit progresif yang terjadi secara bertahap yaitu penebalan dinding arteri koroner. Aterosklerosis koroner dianggap sebagai proses pasif karena sebagian besar dihasilkan oleh kolesterol yang berada pada dinding arteri (Yuet Wai Kan, 2000).
Penyakit  jantung  koroner  adalah  suatu penyakit jantung yang terutama disebabkan karena penyempitan arteri koronaria akibat proses aterosklerosis atau spasme atau kombinasi keduanya. Manifestasi klinik PJK yang klasik adalah angina pektoris. Angina pektoris ialah suatu sindroma klinis di mana didapatkan sakit dada yang timbul pada waktu melakukan aktivitas karena adanya iskemik miokard. Hal ini menunjukkan bahwatelah terjadi > 70% penyempitan arteri koronaria. Angina pektoris dapat muncul sebagai angina pektoris stabi (APS) dan keadaan ini bisa berkembang menjadi lebih berat dan menimbulkan sindroma koroner akut (SKA) .PJK merupakan sosok penyakit yang sangat menakutkan dan masih menjadi masalah baik di negara maju maupun negara berkembang. Hasil survei yang dilakukan. Departemen Kesehatan RI menyatakan bahwa prevalensi PJK di Indonesia dari tahun ketahun terus meningkat. Bahkan sekarang (tahun 2000-an) dapat dipastikan,kecenderungan penyebab kematian di Indonesia bergeser dari penyakit infeksi kepenyakit kardiovaskular (antara lain PJK) dan degeneratif.
1.      Menurut ESC (European Society Of Cardiology), prevalensi angina padakelompok studi populasi meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Untuk kelompok wanita, prevalensinya 0.1-1% pada usia 45-54 tahun hingga 10-15% pada usia 65-74tahun. Sedangkan pada kelompok laki-laki, prevalensinya 2-5% pada usia 45-54 tahun hingga 10-20% pada usia 65-74 tahun. Untuk itu, dapat diperkirakan bahwa 20.000-40.000 per 1 juta populasi penduduk di Eropa mengalami angina.
2.              Menurut data Badan Kesehatan Dunia (WHO), penyakit kardiovaskular menyebabkan 17,5 juta kematian di seluruh dunia, tercatat bahwa lebih dari 7 juta orang meninggal akibat PJK di seluruh dunia pada tahun 2002, angka ini diperkirakan meningkat hingga 11 juta orang pada tahun 2020. Di Indonesia, berdasarkan data survey dari Badan Kesehatan Nasional tahun 2001 menunjukkan tiga dari 1000 penduduk Indonesia menderita PJK, pada tahun 2007 terdapat sekitar 400 ribu penderita PJK dan pada saat ini penyakit jantung koroner menjadi pembunuh nomor satu di dalam negeridengan tingkat kematian mencapai 26%.
Gambaran kasus di atas menunjukkan pentingnya penyakit ini yang belum mendapat perhatian mengenai besarnya resiko seseorang, ketidak mampuan, hilangnya pekerjaan, dan pada saat masuk rumah sakit. Pada dekade sekarang sejak konferensi klinis terakhir oleh New York Heart Association atau asosiasi kesehatan New York menyatakan subjek ini, dari sejumlah loka karya telah mengeluarkan informasi baru yang penting mengenai penyakit ini, cara pencegahan dan kontrol. Hal ini dinyatakan dalam besarnya perubahan yang jelas secara klinis dari PJK dan banyaknya faktor yang mungkin relevan, besarnya jumlah pasien yang ikut, kelompok yang akan termasuk dalam semua kasus PJK yang timbul pada populasi umum dengan karakteristik jelas.

1.2            Rumusan Masalah
Dalam makalah ini menjelaskan tentang :
1.      Apa Anatomi Jantung Koroner ?
2.      Apa Fisiologi Jantung Koroner ?
3.      Apa Defenisi dari Jantung Koroner?
4.      Apa Etiologi Jantung Koroner ?
5.      Apa Faktor resiko Jantung Koroner?
6.      Bagaimana Patogenesis terjadinya Jantung Koroner?
7.      Bagaimana Manifestasi knilis/Gejala Jantung Koroner?
8.      Bagaimana Diagnosis Jantung Koroner?
9.      Bagaimana Penatalaksanaan Jantung Koroner?
10.  Bagaimana Pencegahan Jantung Koroner?


1.3            Tujuan
1.      Mengetahui Anatomi Jantung Koroner
1        Mengetahui Fisiologi Jantung Koroner
2        Mengetahui Defenisi dari Jantung Koroner
3        Mengetahui Etiologi Jantung Koroner
4        Mengetahui Faktor resiko Jantung Koroner
5        Mengetahui Patogenesis terjadinya Jantung Koroner
6        Mengetahui Manifestasi knilis/Gejala Jantung Koroner
7        Mengetahui Diagnosis Jantung Koroner
8        Mengetahui Penatalaksanaan Jantung Koroner
9        Mengetahui Pencegahan Jantung Koroner
















BAB II
PEMBAHASAN
2.1     Anatomi
A.    Ruang Jantung terbagi atas empat ruang.
a.       Atrium kanan dan atrium kiri yang dipisahkan oleh septum intratrial.
b.       Ventrikel kanan dan ventrikel kiri yang dipisahkan oleh septum interventrikular.
Atrium kanan menerima darah de-oksigen dari tubuh melalui vena kava superior (kepala dan tubuh bagian atas) dan inferior vena kava (kaki dan dada lebih rendah). Simpul sinoatrial mengirimkan impuls yang menyebabkan jaringan otot jantung dari atrium berkontraksi dengan cara yang terkoordinasi seperti gelombang. Katup trikuspid yang memisahkan atrium kanan dari ventrikel kanan, akan terbuka untuk membiarkan darah de-oksigen dikumpulkan di atrium kanan mengalir ke ventrikel kanan.
2.      Ventrikel Kanan
Ventrikel kanan menerima darah de-oksigen sebagai kontrak atrium kanan. Katup paru menuju ke arteri paru tertutup, memungkinkan untuk mengisi ventrikel dengan darah. Setelah ventrikel penuh, mereka kontrak. Sebagai kontrak ventrikel kanan, menutup katup trikuspid dan katup paru terbuka. Penutupan katup trikuspid mencegah darah dari dukungan ke atrium kanan dan pembukaan katup paru memungkinkan darah mengalir ke arteri pulmonalis menuju paru-paru.
Atrium kiri menerima darah beroksigen dari paru-paru melalui vena paru-paru. Sebagai kontraksi dipicu oleh node sinoatrial kemajuan melalui atrium, darah melewati katup mitral ke ventrikel kiri.
Ventrikel kiri menerima darah yang mengandung oksigen sebagai kontrak atrium kiri. Darah melewati katup mitral ke ventrikel kiri. Katup aorta menuju aorta tertutup, memungkinkan untuk mengisi ventrikel dengan darah. Setelah
ventrikel penuh, mereka kontrak. Sebagai kontrak ventrikel kiri, menutup katup mitral dan katup aorta terbuka. Penutupan katup mitral mencegah darah dari dukungan ke atrium kiri dan pembukaan katup aorta memungkinkan darah mengalir ke aorta dan mengalir ke seluruh tubuh.

B.     Katup jantung terdiri dari.
1.      Katup Trikuspidalis
Katup trikuspidalis berada diantara atrium kanan dan ventrikel kanan. Bila katup ini terbuka, maka darah akan mengalir dari atrium kanan menuju ventrikel kanan. Katup trikuspid berfungsi mencegah kembalinya aliran darah menuju atrium kanan dengan cara menutup pada saat kontraksi ventrikel. Sesuai dengan namanya, katup trikuspid terdiri dari 3 daun katup.
2.      Katup Pulmonal
Setelah katup trikuspid tertutup, darah akan mengalir dari dalam ventrikel kanan melalui trunkus pulmonalis. Trunkus pulmonalis bercabang menjadi arteri pulmonalis kanan dan kiri yang akan berhubungan dengan jaringan paru kanan dan kiri. Pada pangkal trunkus pulmonalis terdapat katup pulmonalis yang terdiri dari 3 daun katup yang terbuka bila ventrikel kanan berkontraksi dan menutup bila ventrikel kanan relaksasi, sehingga memungkinkan darah mengalir dari ventrikel kanan menuju arteri pulmonalis.
3.      Katup Bikuspid
Katup bikuspid atau katup mitral mengatur aliran darah dari atrium kiri menuju ventrikel kiri. Seperti katup trikuspid, katup bikuspid menutup pada saat kontraksi ventrikel. Katup bikuspid terdiri dari dua daun katup.
4.      Katup aorta
      Katup aorta terdiri dari 3 daun katup yang terdapat pada pangkal aorta. Katup ini akan membuka pada saat ventrikel kiri berkontraksi sehingga darah akan mengalir keseluruh tubuh. Sebaliknya katup akan menutup pada saat ventrikel kiri relaksasi, sehingga mencegah darah masuk kembali kedalam ventrikel kiri.

1.      Arteri Koroner
Karena Jantung adalah terutama terdiri dari jaringan otot jantung yang terus menerus kontrak dan rileks, ia harus memiliki pasokan oksigen yang konstan dan nutrisi. Arteri koroner adalah jaringan pembuluh darah yang membawa oksigen dan darah kaya nutrisi ke jaringan otot jantung.
Darah meninggalkan ventrikel kiri keluar melalui aorta, yang arteri utama tubuh. Dua arteri koroner, disebut sebagai “Kiri” dan “kanan” arteri koroner, muncul dari awalaorta, di dekat bagian atas jantung.
2.      Vena  Kava Superior
Vena kava superior adalah salah satu dari dua pembuluh darah utama yang membawa darah de-oksigen dari tubuh ke jantung. Vena dari kepala dan tubuh bagian atas umpan ke v. kava superior, yang bermuara di atrium kanan jantung.
3.      Vena  Kava Inferior
Vena kava inferior adalah salah satu dari dua pembuluh darah utama yang membawa darah de-oksigen dari tubuh ke jantung. Vena dari kaki dan umpan dada rendah ke v. kava inferior, yang bermuara di atrium kanan jantung.
4.      Vena Pulmonalis
Vena paru adalah pembuluh darah mengangkut oksigen yang kaya dari paru ke atrium kiri. Kesalahpahaman yang umum adalah bahwa semua urat membawa darah de-oksigen. Hal ini lebih tepat untuk mengklasifikasikan sebagai pembuluh vena yang membawa darah ke jantung.
Aorta adalah pembuluh darah tunggal terbesar di tubuh. Ini adalah kira-kira diameter ibu jari Anda. kapal ini membawa darah yang kaya oksigen dari ventrikel kiri ke berbagai bagian tubuh.


6.      Arteri Pulmonalis
Arteri paru adalah pembuluh darah transportasi de-oksigen dari ventrikel kanan ke paru-paru. Kesalahpahaman yang umum adalah bahwa semua arteri membawa darah yang kaya oksigen. Hal ini lebih tepat untuk mengklasifikasikan sebagai pembuluh arteri yang membawa darah dari jantung.

2.2     Fisiologi
     Fungsi Jantung adalah memompa darah keparu-paru dimana darah itu memperoleh oksigen dan seterusnya dialirkan ke seluruh badan. Fungsi utama jantung adalah menyediakan oksigen ke seluruh tubuh dan membersihkan tubuh dari hasil metabolisme (karbondioksida). Jantung melaksanakan fungsi tersebut dengan mengumpulkan darah yang kekurangan oksigen dari seluruh tubuh dan memompanya ke dalam paru-paru, dimana darah akan mengambil oksigen dan membuang karbondioksida, jantung kemudian mengumpulkan darah yang kaya oksigen dari paru-paru dan memompanya ke jaringan di seluruh tubuh. Pada saat berdenyut, setiap ruang jantung mengendur dan terisi darah (diastol), selanjutnya jantung berkontraksi dan memompa darah keluar dari ruang jantung (sistol).
 Kedua atrium mengendur dan berkontraksi secara bersamaan, dan kedua ventrikel juga mengendur dan berkontraksi secara bersamaan. Darah yang kehabisan oksigen dan mengandung banyak karbondioksida dari seluruh tubuh mengalir melalui 2 vena berbesar (vena kava) menuju ke dalam atrium kanan. Setelah atrium kanan terisi darah, dia akan mendorong darah ke dalam ventrikel kanan. Darah dari ventrikel kanan akan dipompa melalui katup pulmoner ke dalam arteri pulmonalis, menuju ke paru-paru. Darah akan mengalir melalui pembuluh yang sangat kecil (kapiler) yang mengelilingi kantong udara di paru-paru, menyerap oksigen dan melepaskan karbondioksida yang selanjutnya dihembuskan.
Darah yang kaya akan oksigen mengalir di dalam vena pulmonalis menuju ke atrium kiri. Peredaran darah diantara bagian kanan jantung, paru-paru dan atrium kiri disebut sirkulasi pulmoner. Darah dalam atrium kiri akan didorong ke dalam ventrikel kiri, yang selanjutnya akan memompa darah yang kaya akan oksigen ini melewati katup aorta masuk ke dalam aorta (arteri terbesar dalam tubuh). Darah kaya oksigen ini disediakan untuk seluruh tubuh, kecuali paru-paru.

2.3     Definisi
Penyakit jantung koroner dapat terdiri dari:
1.      Angina pektoris stabil (APS) Sindroma klinik yang ditandai dengan rasa tidak enak di dada, rahang, bahu, ,punggung ataupun lengan, yang biasanya oleh kerja fisik atau stres emosional dan keluhan ini dapat berkurang bila  istirahat atau dengan obat nitrogliserin.
2.      Sindroma Koroner Akut (SKA) Sindroma klinik yang mempunyai dasar patofisiologi, yaitu berupa adanya erosi,fisur atau robeknya plak arterosklerosis sehingga menyebabkan trombosisintravaskular yang menimbulkan ketidakseimbangan pasokan dan kebutuhanoksigen mioka yang termasuk SKA.
3.      Angina  pektoris tidak stabil (UAP, unstable angina pectoris), yaitu: Pasien dengan angina yang masih baru dalam 2 bulan, dimana angina cukupberat dan frekuensi cukup sering, lebih dari 3 kali per hari.
Saat ini penyakit jantung koroner, telah menjadi penyebab kematian utama di dunia. Fakta membuktikan penyakit jantung koroner telah merengut nyawa sebanyak 478.000 orang pertahunnya di Amerika Serikat. Termasuk di Indonesia, penyakit jantung merupakan penyakit yang mematikan. Survei Depkes RI mendapatkan terjadi peningkatan kematian akibat penyakit jantung dari 9,7 % menjadi 16 %.Seperti di maklumi penyebabnya adalah terjadinya hambatan aliran darah pada arteri koroner yang menyuplai darah ke otot jantung. Salah satu hambatan berupa plak, dan prosesnya memakan waktu yang amat panjang, bahkan dapat bertahun-tahun, mungkin di mulai sejak masa muda yang seringkali memuncak menjadi serangan jantung atau operasi pintas koroner.

2.4     Etiologi
Pria dan wanita dapat terkena penyakit jantung koroner. Penyakit jantung koroner dapat diturunkan secara turun temurun (keturunan). Mungkin juga merupakan perkembangan seperti pada usia lanjut dan pembentukan paque didalam arteri yang berlangsung lama. Seorang  bisa terkena penyakit jantung koroner jika mepunyai berat badan yang berlebihan (overweight) atau seseorang dengan tekanan darah tinggi dan diabetes. Kolesterol tinggi bisa juga menjadi penyakit jantung koroner. Penyakit jantung koroner bersumber dari aneka pilihan gaya hidup yang tidak sehat seperti merokok, kebiasaan makan dengan tinggi lemak dan kurangnya olah raga. 
Makanan mempengaruhi kadar kolesterol total dan karena itu makanan juga mempengaruhi resiko terjadinya penyakit arteri koroner. Merubah pola makan (dan bila perlu mengkonsumsi obat dari dokter) bisa menurunkan kadar kolesterol. Menurunkan kadar kolesterol total dan kolesterol LDL bisa memperlambat atau mencegah berkembangnya penyakit arteri koroner.
Penyakit arteri koroner bisa menyerang semua ras, tetapi angka kejadian paling tinggi ditemukan pada orang kulit putih. Tetapi ras sendiri tampaknya bukan merupakan faktor penting dalam gaya hidup seseorang.

2.5     Faktor Resiko
Menurut “American Heart Asosiation”, faktor risiko dapat dibagi menjadi tiga golongan besar yaitu:
A.    Faktor Risiko Utama (major risk factor),
      Yaitu factor risiko yang diyakini secara langsung meningkatkan risiko timbulnya PJK : seperti kadar kolesterol darah yang abnormal, tekanan darah tinggi atau hipertensi dan merokok.
1.      Kadar Kolesterol Tinggi.
Penyebab penyakit jantung koroner adalah endapan lemak pada dinding arteri koroner, yang terdiri dari kolesterol dan zat buangan lainnya. Untuk mengurangi risiko penyakit jantung koroner, harus menjaga kadar kolesterol dalam darah. Kolesterol adalah senyawa lemak kompleks yang secara alamiah dihasilkan tubuh dan bermanfaat bagi pembentukan dinding sel dan hormon. Dua pertiga kolesterol diproduksi oleh hati (liver), sepertiga lainnya diperoleh langsung dari makanan. Kolesterol diedarkan dalam darah melalui molekul yang disebut lipoprotein. Ada dua jenis lipoprotein, yaitu low-density lipoprotein (LDL), and high-density lipoprotein (HDL).
LDL mengangkut kolesterol dari hati ke sel-sel tubuh. HDL berfungsi sebaliknya, mengangkut kelebihan kolesterol ke hati untuk diolah dan dibuang keluar. LDL yang berlebihan dapat menyebabkan penumpukan kolesterol pada dinding arteri sehingga disebut “kolesterol jahat”. Kadar LDL yang optimal adalah 100- 129 mg/dL. Kelebihan LDL menyebabkan HDL “kewalahan” membuang kolesterol yang berlebih. Total kolesterol yang dianjurkan (HDL + LDL) adalah di bawah 200 mg/dL (border line = 240).
Tekanan darah tinggi menambah kerja jantung sehingga dinding jantung menebal/kaku dan meningkatkan risiko penyakit jantung koroner.
Ada dua pengukuran tekanan darah. Tekanan sistolik adalah tekanan darah yang memancar dari jantung ke seluruh tubuh. Tekanan diastolik adalah tekanan darah yang kembali mengisi jantung. Secara umum orang dikatakan menderita hipertensi bila tekanan darah sistolik/diastoliknya di atas 140/90 mmHg.
3.      Trombosis
Trombosis adalah gumpalan darah pada arteri atau vena. Bila trombosis terjadi pada pembuluh arteri koroner, maka berisiko terkena penyakit jantung koroner. Trombosis biasanya berada pada dinding pembuluh yang menebal karena aterosklerosis. Merokok meningkatkan risiko trombosis hingga beberapa kali lipat.
B.     Faktor Risiko Tidak Langsung (contributing risk factor),
Yaitu faktor risiko yang dapat di “asosiasikan” dengan timbulnya PJK. Hubungan antara faktor-faktor tersebut dengan PJK sering kali bersifat tidak langsung. Termasuk dalam golongan ini adalah Diabetes Melitus,  kegemukan, tidak aktif dan stress
1.      Diabetes melitus.        
Diabetes meningkatkan risiko penyakit jantung koroner, terlebih bila kadar gula darah tidak dikontrol dengan baik. Dua pertiga penderita diabetes meninggal karena penyakit jantung dan gangguan kardiovaskuler lainnya.
2.      Kegemukan.
Kegemukan (obesitas) meningkatkan risiko tekanan darah tinggi dan diabetes. Orang yang kegemukan juga cenderung memiliki kadar HDL rendah/LDL tinggi.
C.     Faktor Risiko Alami
Faktor risiko dapat pula digolongkan menjadi factor risiko yang dapat diperbaiki atau bahkan dihilangkan, yaitu yang tersebut pada butir a dan b. Sedangkan golongan lain yaitu faktor risiko yang tidak dapat diperbaiki atau diubah, yaitu faktor risiko tersebut pada butir c.  Jenis ini terdiri dari keturunan, jender, dan usia.
1.      Usia
Risiko penyakit jantung koroner meningkat seiring usia. Semakin tua, semakin menurun efektivitas organ-organ tubuh, termasuk sistem kardiovaskulernya. Lebih dari 80 persen penderita jantung koroner berusia di atas 60 tahun. Laki-laki cenderung lebih cepat terkena dibandingkan perempuan, yang risikonya baru meningkat drastis setelah menopause.
2.      Keturunan.
Risiko lebih tinggi bila orang tua juga terkena penyakit jantung koroner, terlebih bila mulai mengidap di usia kurang dari 60 tahun.

2.6     Patologis
      Batasan aliran darah ke jantung menyebabkan iskemia (sel kelaparan sekunder kekurangan oksigen) dari sel-sel miokard. Sel miokard mungkin mati karena kekurangan oksigen dan ini disebut infark miokard (biasa disebut serangan jantung). Hal ini menyebabkan kerusakan otot jantung, kematian otot jantung dan kemudian miokard tanpa pertumbuhan kembali jaringan parut otot jantung. Kelas tinggi kronis stenosis arteri koroner dapat menyebabkan iskemia transien yang mengarah pada induksi aritmia ventrikel, yang dapat mengakhiri fibrilasi ventrikel ke menyebabkan kematian.
Infark miokard biasanya hasil dari oklusi mendadak arteri koroner ketika pecah plak, mengaktifkan sistem pembekuan dan ateroma-gumpalan interaksi mengisi lumen arteri ke titik penutupan tiba-tiba. Penyempitan lumen arteri jantung sebelum penutupan tiba-tiba sering tidak parah, menurut penelitian klinis selesai pada akhir 1990-an dan menggunakan pemeriksaan IVUS dalam waktu 6 bulan sebelum serangan jantung. Kejadian yang menyebabkan pecah plak tidak dipahami meskipun banyak teori. Infark miokard ini hampir tidak pernah disebabkan oleh kejang sementara dinding arteri occluding lumen, kondisi juga berhubungan dengan plak ateromatosa dan CAD.
CAD dikaitkan dengan merokok, diabetes hipertensi. Sebuah riwayat keluarga CAD awal adalah salah satu prediktor kurang penting dari CAD. Kebanyakan dari asosiasi keluarga dari penyakit arteri koroner berhubungan dengan kebiasaan diet umum. Skrining untuk CAD termasuk mengevaluasi lipoprotein high-density dan low-density (kolesterol) dan tingkat trigliserida. Meskipun tekan banyak, sebagian besar faktor risiko alternatif termasuk homocysteine, C-reaktif protein (CRP), Lipoprotein (a), kalsium koroner dan analisis lipid yang lebih canggih telah menambahkan sedikit jika ada nilai tambahan untuk faktor risiko konvensional merokok, diabetes dan hipertensi.

2.7     Manefestasi Klinis/Gejala
      Yang umum menurut American Health Assosioation (AHA) adalah sebagai berikut:
1.      Tidak ada simtom. Banyak dari mereka yang mengalami PJK tidak merasakan ada sesuatu yang tidak enak atau tanda-tanda suatu penyakit. Dalam kedokteran kondisi ini disebut silent ischernia. Mereka yang berpenyakit diabetes amat rentan terhadap silent ischemia.
2.      Angina. Formalnya disebut angina pectoris. Angina umumnya ditunjukkan dengan sakit dada sementara sewaktu melakukan gerakan fisik atau olahraga. Mungkin merasa tekanan atau sesak di dada, seolah-olah seseorang sedang berdiri di dada. Rasa sakit, yang disebut sebagai angina, biasanya dipicu oleh tekanan fisik atau emosional. Hal itu biasanya hilang dalam beberapa menit setelah menghentikan aktivitas yang menyebabkan tekanan. Pada beberapa orang, terutama perempuan, nyeri ini mungkin sekilas atau tajam dan terasa di perut, punggung, atau lengan.
3.      Angina tidak stabil (unstable angina). Sakit dada yang tiba-tiba terasa sewaktu dalam keadaan istirahat atau terjadi lebih berat secara tiba-tiba. Jika jantung tidak dapat memompa cukup darah untuk memenuhi kebutuhan tubuh,  dapat mengalami sesak napas atau kelelahan ekstrem tanpa tenaga
4.      Serangan jantung. Bila aliran darah ke pembuluh arteri koroner terhalang sepenuhnya terjadilah serangan jantung atau myocardial infarction (MI). Jika arteri koroner menjadi benar-benar diblokir, mungkin mengalami serangan jantung. Gejala klasik serangan jantung termasuk tekanan yang menyesakkan dada dan sakit pada bahu atau lengan, kadang-kadang dengan sesak napas dan berkeringat. Wanita mungkin kurang mengalami tanda-tanda khas serangan jantung dibanding laki-laki, termasuk mual dan sakit punggung atau rahang. Kadang-kadang serangan jantung terjadi tanpa ada tanda-tanda atau gejala yang jelas.

2.8     Diagnosis
      Dokter akan bertanya tentang riwayat kesehatan, melakukan pemeriksaan fisik dan tes darah rutin. Ia mungkin menyarankan satu atau lebih tes diagnostik juga, termasuk:
1)      Elektrokardiogram (EKG)
Elektrokardiogram mencatat sinyal listrik ketika mereka bergerak melalui jantung. EKG sering mengungkapkan bukti dari serangan jantung sebelumnya atau dalam perkembangan. Dalam kasus lain, Holter monitoring mungkin disarankan. Dengan EKG jenis ini, pemakaian monitor portabel selama 24 jam saat menjalani aktivitas normal. Kelainan tertentu mungkin menunjukkan aliran darah tidak memadai untuk jantung.
2)      Echocardiogram
Ekokardiogram menggunakan gelombang suara untuk menghasilkan gambar jantung. Selama ekokardiogram, dokter dapat menentukan apakah semua bagian dari dinding jantung berkontribusi biasa dalam aktivitas memompa jantung. Bagian yang bergerak lemah mungkin telah rusak selama serangan jantung atau menerima terlalu sedikit oksigen. Ini mungkin menandakan penyakit arteri koroner atau berbagai kondisi lain.
3)      Foto rontgen dada
Dari foto rontgen dada dokter dapat melihat ukuran jantung, ada tidaknya pembesaran. Di samping itu dapat juga dilihat gambar paru. Kelainan pada koroner tidak bias dilihat dari foto rontgen dada ini. Dari ukuran jantung dapat dinilai apakah seorang penderita sudah berada pada PJK lanjut. Mungkin saja PJK lama yang sudah berlanjut pada payah jantung. Gambarannya, biasanya jantung terlihat membesar.
4)      Pemeriksaan Laboratorium
Dilakukan untuk mengetahui kadar kolesterol darah dan trigliserida sebagai faktor resiko. Dari pemeriksaan darah juga dapat diketahui ada tidaknya serangan jantung akut dengan melihat kenaikan enzim jantung.
5)      Treadmill
Dalam Kamus Kedokteran Indonesia disebut jentera, alat ini digunakan untuk pemeriksaan diagnostic PJK. Berupa ban berjalan serupa dengan alat olahraga umumnya, namun dihubungkan dengan monitor dan alat rekam EKG. Prinsipnya adalah merekam aktifitas, yang member petunjuk adanya PJK. Hal ini dapat disebabkan karena jangtung mempunyai tenaga serap, sehingga pada keadaan tertentu dalam keadaan istirahat gambaran EKG tampak normal.
Dari hasil treadmill ini telah dapat diduga apakah seseorang menderita PJK. Memang tidak 100% karena pemeriksaan dengan treadmill ini sensitifitasnya hanya sekitar 84% pada pria, sedangkan untuk wanita hanya 72%. Berarti masih mungkin ramalan ini meleset sekitar 16%, artinya dari 100 orang pria penderita PJK yang terbukti benar hanya 84 orang.
6)      Kateterisasi jantung
Pemeriksaan ini sampai sekarang masih merupakan "Golden Standard" untuk PJK, karna dapat terlihat jelas tingkat penyempitan dari pembuluh arteri koroner, apakah ringan, sedang, berat bahkan total. Pemeriksaan ini dilakukan dengan memasukkan kateter semacam slang ujung lidi. Slang ini dimasukkan langsung ke pembuluh nadi (arteri). Bisa melalui pangkal paha, lipatan lengan atau melalui pembuluh darah di lengan bawah. Kateter didorong dengan tuntunan alat rontgen langsung ke muara pembuluh koroner. Setelah dapat lubangnya, kemudian disuntikkan cairan kontras sehingga mengisi pembuluh koroner yang dimaksud. Setelah itu dapat dilihat adanya penyempitan atau mungkin tidak ada penyumbatan.
Penyempitan atau penyumbatan ini dapat saja mengenai beberapa pembuluh koroner. Atas dasar hasil kateterisasi jantung ini akan dapat ditentukan penanganan lebih lanjut. Apakah pasien cukup hanya dengan obat saja, disamping mencegah atau mengendalikan faktor resiko. Atau mungkin memerlukan intervensi yang dikenal dengan balon. Banyak juga yang menyebut dengan istilah ditiup atau balonisasi. Saat ini disamping di balon dapat pula dipasang stent, semacam penyangga seperti cincin atau gorong-gorong yang berguna untuk mencegah kembalinya penyempitan. Bila tidak mungkin dengan obat-obatan, dibalon dengan atau tanpa stent.
7)      Bedah/oprasi pintas koroner
Bedah/oprasi pintas koroner dalam istilah asingnya disebut sebaga Coronary Artery Bypass Graft (CABG), dilakukan dengan membuat saluran baru melewati bagian arteri koroner yang mengalami penyampitan atau penyumbatan. Sering disebut jalan pintas. Hal ini bertujuan agar kekurangan pasokan darah termasuk oksigen ke bagian ujung (distal) dari penyempitan dapat diatasi. Bagian yang menyempit tetap seperti semula.
Dan apabila suatu saat kemudian terjadi penyumbatan total pada bagian yang menyempit, maka pasokan darah untuk otot jantung tetap terjamin. Saluran baru yang dipasang dapat diambil dari pembuluh darah balik di tungkai bawah. Biasanya dari vena sphena, dapat juga dari pembuluh nadi (arteri) ditangan yaitu dari arteri radiasi, arteri brachialis atau dari pembuluh darah yang memperdarahi susu yang disebut arteria mammaria. Bias satu atau keduanya tergantung kebutuhan.
CABG dilakukan dengan membuka dada dengan pemotongan tulang dada untuk kemudian menguak bagian kanan dan kiri dada sedemikian sehingga jantung dapat terlihat secara nyata. Sudah tentu banyak jaringan-jaringan dan alat-alat harus dipisahkan dulu sebelum sampai menjamah jantung. Dokter spesialis bedah jantung akan memastikan kembali hasil kateterisasi yang menunjukkan penyempitan. Setelah itu barulah memasang pembuluh darah baru yang diambil dari kaki, tangan atau pembuluh yang memperdarahi susu tadi melewati tempat penyempitan.
Sebelum menutup kembali rongga dada lapis demi lapis, sudah barang tentu diadakan pengujian terhadap graft yang dipasang, apabila ada kebocoran atau perdarahan baik pada pangkal maupun ujung.
Tehnik baru operasi CABG
      Awalnya CABG dilakukan dengan memakai mesin jantung paru (heart lung machine), dengan tehnik ini jantung dihentikan berdenyut dengan memakai obat yang disebut cardioplegic. Jantung benar-benar diam. Sementara itu peredaran darah dan pertukaran ydara diurus oleh mesin jantung paru. Paru akan mengempis menjadi kira-kira sebesar bola pingpong bila diremas.
      Belakangan ini sejak awal tahun 2000, telah diperkenalkan tehnik oprasi tanpa mesin jantung paru (off pump CABG). Tehnik ini dilakukan dalam keadaan jantung berdenyut normal. Paru-paru pun berfungsi seperti biasa. Dokter bedah jantung memasang graft dalam keadaan jantung berdenyut. Metode ini telah banyak dilakukan di Pusat Jantung Nasional/National Cardiovascular Center Harapan Kita. Metode off pump ini banyak memberikan keuntungan. Selainan lama rawat lebih singkat, biaya operasipun bisa lebih murah. Tetapi tidak semua pasien yang memerlukan CABG akan dilakukan dengan metode ini. Semua tergantung pada indikasi masing-masing
8)      Teteknologi CT Scan. Computerized Tomography (CT)
      Seperti berkas Elektron Computerized Tomography (EBCT) atau CT angiogram koroner, dapat membantu dokter memvisualisasikan arteri. EBCT, juga disebut sebagai ultrafast CT Scan, dapat mendeteksi kalsium dalam lemak yang sempit arteri koroner. Jika sejumlah besar kalsium ditemukan, penyakit arteri koroner mungkin terjadi. CT angiogram koroner, di mana menerima pewarna kontras yang disuntikkan secara intravena selama CT Scan, juga dapat menghasilkan gambar dari arteri jantung.
9)      Magnetic Resonance Angiogram (MRA)
Prosedur ini menggunakan teknologi MRI, sering digabungkan dengan menyuntikkan zat warna kontras, untuk memeriksa area penyempitan atau penyumbatan, meskipun rincian mungkin tidak sejelas yang disediakan oleh kateterisasi koroner.

2.9     Penatalaksanaan
A.    Pengobatan Tradisional
Berikut resep tradisional racikan dari Prof. H.M. Hembing Wijayakusuma:
1)      1-3 buah mengkudu/pace/noni yang matang di cuci dan dipotong-potong, kemudian diblender dengan air secukupnya dan direbus hingga mendidih. Tambahkan madu secukupnya, lalu diminum.
2)      2-3 buah mengkudu/pace/noni yang matang dicuci bersih dan dipotong-potong + 10 butir angco, dibuang bijinya. Semua bahan diblender dengan air secukupnya, tambahkan 10 gram bubuk umbi daun dewa (thien chi). Aduk rata, lalu diminum.
3)      2 buah mengkudu/pace/noni yang matang, dicuci dan dipotong-potong + 30 gram daun dewa direbus dengan 600 cc air hingga tersisa 300 cc. Saring, tambahkan madu secukupnya. Aduk rata lalu diminum.
Pilih salah satu resep dan lakukan secara teratur. Resep tersebut untuk membantu proses penyembuhan. Tetaplah konsultasi ke dokter.
B.     Pengobatan Medis
Pada prinsipnya pengobatan (PJK) ditujukan untuk agar terjadi keseimbangan lagi antara kebutuhan oksigen jantung dan penyediaannya. Aliran darah melalui arteri koronaria harus kembali ada dan lancar untuk jantung. Pengobatan awal biasanya segera diberikan tablet Aspirin yang harus dikunyah. Pemberian obat ini akan mengurangi pembentukan bekuan darah di dalam arteri koroner. Pengobatan penyakit jantung koroner adalah meningkatkan suplai (pemberian obat-obatan nitrat, antagonis kalsium) dan mengurangi demand (pemberian beta bloker), dan yang penting mengendalikan risiko utama seperti kadar gula darah bagi penderita kencing manis, optimalisasi tekanan darah, kontrol kolesterol dan berhenti merokok.
Jika dengan pengobatan tidak dapat mengurangi keluhan sakit dada, maka harus dilakukan tindakan untuk membuka pembuluh koroner yang menyempit secara intervensi perkutan atau tindakan bedah pintas koroner (CABG). Intervensi perkutan yaitu tindakan intervensi penggunaan kateter halus yang dimasukkan ke dalam pembuluh darah untuk dilakukan balonisasi yang dilanjutkan pemasangan ring (stent) intrakoroner.
Berbagai obat dapat digunakan untuk mengobati penyakit arteri koroner, termasuk:
1.   Obat modifikasi kolesterol. Dengan mengurangi jumlah kolesterol dalam darah, terutama low-density lipoprotein (LDL) atau kolesterol "buruk" , obat-obatan ini mengurangi bahan utama yang menumpuk pada arteri koroner. Meningkatkan high-density lipoprotein (HDL),  atau kolesterol "baik", mungkin membantu juga. Dokter  dapat memilih dari berbagai obat, termasuk statin, niasin, asam empedu fibrates dan sequestrants.

Jenis obat
Contoh
Cara kerja
Penyerapan asam empedu
·          Kolestiramin
·         Kolestipol
·         Mengikat asam empedu di usus
·         Meningkatkan pembuangan LDL dari aliran darah
Penghambat sintesa lipoprotein
Mengurangi kecepatan pembentukan VLDL  (VLDL merupakan prekursos dari LDL)
Penghambat koenzim A reduktase
·         Adrenalin, Fluvastatin
·         Lovastatin
·         Pravastatin
·         Simvastatin
·         Atorvastatin
·         Rosuvastatin
·         Pitavastatin
·         Ezetimibe
·         Menghambat pembentukan kolesterol
·         Meningkatkan pembuangan LDL dari aliran darah
Derivat asam fibrat
·         Klofibrat
·         Fenofibrat
·         Gemfibrosil
Belum diketahui, mungkin meningkatkan pemecahan lemak

2.      Acetylsalicylic acid. Dokter mungkin menyarankan meminum aspirin harian atau pengencer darah lainnya. Hal ini dapat mengurangi kecenderungan darah untuk membeku, yang dapat membantu mencegah penyumbatan arteri koroner. Jika pernah mengalami serangan jantung, aspirin dapat membantu mencegah serangan di masa depan. Ada beberapa kasus di mana aspirin tidak sesuai, seperti jika memiliki kelainan pendarahan dimana sudah menggunakan pengencer darah lain, jadi tanyalah dokter sebelum memulai minum aspirin.
3.      Beta bloker. Obat-obatan ini memperlambat denyut jantung dan menurunkan tekanan darah, yang menurunkan permintaan oksigen jantung. Jika pernah mengalami serangan jantung, beta blocker mengurangi risiko serangan di masa depan. Misal : Atenolol, Metoprolol, Propranolol, Nebivolol, Esmolol, Labetalol, Carvedilol, Bisoprol
4.      Nitrogliserin. Nitrogliserin tablet, semprotan dan koyo dapat mengontrol nyeri dada dengan membuka arteri koroner dan mengurangi permintaan jantung untuk darah.
5.      Penghambat angiotensin-converting enzyme (ACE). Obat-obatan ini menurunkan tekanan darah dan dapat membantu mencegah perkembangan penyakit arteri koroner. Jika pernah mengalami serangan jantung, ACE inhibitor mengurangi risiko serangan di masa depan. Misal : Captopril, Enalapril, Ramipril, Lisinopril, Aliskiren,
6.      Calcium channel blocker. Obat-obat ini melemaskan otot-otot yang mengelilingi arteri koroner dan menyebabkan pembuluh terbuka, meningkatkan aliran darah ke jantung. Mereka juga mengendalikan tekanan darah tinggi. Misal : Nifedipine, Amlodipine, Clevidipine, Felodipine, Diltiazem, Verapamil.
2.10       Pencegahan
Tips Pencegahan Penyakit Jantung Koroner Sejak Dini ;
1.      Pola makan sehat
Hindari makanan yang banyak mengandung lemak atau yang mengandung kolesterol tinggi. Seafood memiliki kandungan kolesterol tinggi yang dapat membahayakan jantung. Kurangi menyantap makanan yang digoreng yang banyak mengandung lemak, sebaliknya makanan dapat diolah dengan cara direbus, dikukus atau dipanggang. Menggoreng dengan menggunakan minyak zaitun memiliki kandungan lemak yang sedikit sehingga bisa menjadi pilihan bila harus mengolah makanan dengan cara digoreng.
2.      Hindari juga makanan dengan kandungan gula tinggi
Seperti soft drink, usahakan menggunakan gula jagung. Jangan pula tertalu banyak mengkonsumsi karbohirat, karena dalam tubuh, karbohidrat akan dipecah menjadi lemak. Sebaliknya, konsumsi oat atau gandum yang dapat membantu menjaga jantung tetap sehat.
3.      Menjaga Tubuh ideal dari  kegemukan
Karena seseorang yang memiliki lingkar pinggang lebih dari 80 cm, berisiko lebih besar terkena penyakit ini.
4.      Berhenti merokok
Mengisap rokok sangat tidak baik untuk kesehatan jantung, maka segera hentikan kebiasaan ini agar jantung tetap sehat.
5.      Hindari Stres
Stres memang sangat sulit dihindari jika hidup di kota besar seperti Jakarta yang dikenal karena kemacetan dan kesibukannya. Saat seseorang mengalami stres, tubuhnya akan mengeluarkan hormon cortisol yang menyebabkan pembuluh darah menjadi kaku. Hormon norepinephrine akan diproduksi tubuh saat menderita stres, yang akan mengakibatkan naiknya tekanan darah. Maka, sangat baik bila Anda menghindari stres baik di kantor atau di rumah.
6.      Hipertensi
            Problem hipertensi atau tekanan darah tinggi juga bisa menyebabkan penyakit jantung. Hipertensi dapat melukai dinding arteri dan memungkinkan kolesterol LDL memasuki saluran arteri dan meningkatkan penimbunan plak.

7.      Obesitas
            Kelebihan berat atau obesitas meningkatkan tekanan darah tinggi dan ketidaknormalan lemak. Menghindari atau mengobati obesitas atau kegemukan adalah cara utama untuk menghindari diabetes. Diabetes mempercepat penyakit jantung koroner dan meningkatkan risiko serangan jantung.

8.      Olahraga secara teratur
Anda dapat melakukan kegiatan olahraga seperti berjalan kaki, jalan cepat, atau jogging. Kegiatan olahraga yang bukan bersifat kompetisi dan tidak terlalu berlebihan dapat menguatkan kerja jantung, melancarkan peredaran darah ke seluruh tubuh, membakar lemak dan menjaga kesimbangan HDL dan LDL.

9.      Konsumsi antioksidan
Polusi udara, asap kendaraan bermotor atau asap rokok menciptakan timbulnya radikal bebas dalam tubuh. Radikal bebas dapat menyebabkan bisul atau endapan pada pembuluh darah yang dapat menyebabkan penyumbatan. Untuk mengeluarkan kandungan radikal bebas dalam tubuh, perlu adanya antioksidan yang akan menangkap dan membuangnya. Antioksidan dapat diperoleh dari berbagai macam buah-buahan dan sayuran. Antioksidan juga berfungsi untuk mencegah lemak jenuh berubah menjadi kolesterol.





BAB III
PENUTUP
3.1       Kesimpulan
Penyakit jantung koroner (PJK) adalah penyakit yng menyerang organ jantung. Gejala dan keluhan dari PJK hampir sama dengan gejala yang dimiliki oleh penyakit jantung secara umum. Penyakit jantung koroner juga salah satu penyakit yang tidak menular. Kejadian PJK terjadi karena adanya faktor resiko yang antara lain adalah tekanan darah tinggi (hipertensi), tingginya kolesterol, gaya hidup yang kurang aktivitas fisik (olahraga), diabetes, riwayat PJK pada keluarga, merokok, konsumsi alkohol dan faktor sosial ekonomi lainnya. Penyakit jantung koroner ini dapat dicegah dengan melakukan pola hidup sehat dan menghindari fakto-faktor resiko.seperti pola makan yang sehat, menurunkan kolesterol, melakukan aktivitas fisik dan olehraga secara teratur, menghindari stress kerja.
Penyakit Jantung Koroner (PJK) disebut juga Arteri Koroner. Arteri koroner adalah pembuluh darah di jantung yang berfungsi menyuplai makanan bagi sel-sel jantung. Penyakit jantung koroner terjadi bila pembuluh arteri koroner tersebut tersumbat atau menyempit karena endapan lemak, yang secara bertahap menumpuk di dinding arteri. Proses penumpukan itu disebut aterosklerosis, dan bisa terjadi di pembuluh arteri lainnya, tidak hanya pada arteri koroner
Kecanduan rokok, hipertensi, kolesterol tinggi juga dapat menjadi penyebab penyakit jantung koroner. Gejalanya Nyeri di dada, Gejala penyerta seperti keringat dingin dan timbulnya rasa mual. Pengobatan bisa di lakukan dengan pengobatan tradisional dengan memanfaatkan mengkudu dan pengobatan medis Intervensi perkutan yaitu tindakan intervensi penggunaan kateter halus yang dimasukkan ke dalam pembuluh darah untuk dilakukan balonisasi yang dilanjutkan pemasangan ring (stent) intrakoroner.
Faktor Risikonya adalah Kadar kolesterol tinggi, Tekanan darah tinggi atau hipertensi. Trombosis, kegemukan, diabetes melitus, penuaan, keturunan.


3.2       Saran
Penyakit Jantung Koroner dapat menyerang kepada siapa saja, bukan hanya kepada usia lanjut saja, namun pada usia yang masih sangat muda sekalipun penyakit jantung dapat menyerang. Jadi, apabila kita tidak ingin terkena penyakit berbahaya ini maka kita harus mualai dengan berperilaku hidup sehat, dari mulai pola makan yang sehat dan teratur hingga mulai membiasakan untuk teratur berolahraga dan tidak merokok tentunya.

DAFTAR PUSTAKA
Soeharto, iman. Serangan Jantung dan Sroke. 2001. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.


2 komentar:

  1. terimakasih banyak, sangat membantu sekali..

    http://acemaxsshop.com/obat-herbal-jantung-koroner/

    BalasHapus
  2. mantap dah artikelnya
    acemaxs31.com/obat-herbal-jantung-koroner/

    BalasHapus