MAKALAH CANDIDIASIS
(Dengan
Dosen Pembimbing Ibu dr.
Septiana Citradewi)
Kelompok : 6
1. Marlida Yuliza Manjorang 12340051
2. Made Rauh Ratna Dewi 12340050
3. Lilis
Setiawati 12340047
4. Melinda 12340052
5. Ria
Limekta 12340076
PROGRAM
STUDY DIV KEBIDANAN 2012/2013
UNIVERSITAS
MALAHAYATI
BANDAR LAMPUNG
Kata
Pengantar
Rasa
syukur yang kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa berkat kemurahan-Nya
makalah CANDIDIASIS ini dapat kami
selesaikan sesuai yang diharapkan. Kami menyadari, bahwa proses penulisan
makalah ini masih jauh dari kata sempurna baik materi maupun cara penulisannya.
Namun demikian, kami telah berupaya dengan segala kemampuan dan pengetahuan
yang dimiliki sehingga dapat selesai dengan baik dan oleh karenanya, kami
dengan rendah hati dan dengan tangan terbuka menerima masukan, saran dan usulan
guna penyempurnaan makalah ini di kemudian hari.
Kami
sadari pula, bahwa dalam pembuatan
makalah ini tidak lepas dari bantuan
berbagai pihak. Untuk itu dalam
kesempatan ini kami menghaturkan rasa hormat dan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada Ibu
dr. Septiana Citradewi selaku Dosen
pembimbing mata kuliah Ilmu Penyakit dan
kepada semua pihak yang membantu dalam pembuatan makalah ini.
Bandar Lampung, April 2013
Kelompok 6
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang.............................................................................................. 1
1.2
Rumusan Masalah
........................................................................................ 2
1.3
Tujuan........................................................................................................... 2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Anatomi
dan Fisiologi.................................................................................. 3
2.2 Definisi.......................................................................................................... 3
2.3 Klasifikasi...................................................................................................... 5
2.4 Etiologi dan Faktor
resiko............................................................................. 6
2.5 Patologis........................................................................................................ 8
2.6 Manefestasi Klinis/Gejala............................................................................. 12
2.7 Diagnosis....................................................................................................... 14
2.8 Penatalaksanaan............................................................................................ 15
2.9 Pencegahan.................................................................................................... 17
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan.................................................................................................. 18
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Kandidiasis (moniliasis)
adalah suatu infeksi oleh jamur Candida, yang sebelumnya disebut Monilia.
Kandidiasis oral atau sering disebut sebagai moniliasis merupakan suatu infeksi
yang paling sering dijumpai dalam rongga mulut manusia, dengan prevalensi
20%-75% dijumpai pada manusia sehat tanpa gejala. Kandidiasis pada penyakit
sistemik menyebabkan peningkatan angka kematian sekitar 71%-79%. Terkadang yang
diserang adalah bayi dan orang dewasa yang tubuhnya lemah. Pada bayi bisa
didapat dari dot, pakaian, bantal, dan sebagainya.
Kandidiasis oral
merupakan salah satu penyakit pada rongga mulut berupa lesi merah dan lesi
putih yang disebabkan oleh jamur jenis Candida sp, dimana Candida albican
merupakan jenis jamur yang menjadi penyebab utama. Kandidiasis oral pertama
sekali dikenalkan oleh Hipocrates pada tahun 377 SM, yang melaporkan adanya
lesi oral yang kemungkinan disebabkan oleh genus Kandida. Terdapat 150 jenis
jamur dalam famili Deutromycetes, dan tujuh diantaranya ( C.albicans,
C.tropicalis, C. parapsilosi, C. krusei, C. kefyr, C. glabrata, dan C.
guilliermondii ) dapat menjadi patogen, dan C. albican merupakan
jamur terbanyak yang terisolasi dari tubuh manusia sebagai flora normal dan
penyebab infeksi oportunistik. Terdapat sekitar 30-40% Kandida albikan pada
rongga mulut orang dewasa sehat, 45% pada neonatus, 45-65% pada anak-anak
sehat, 50-65% pada pasien yang memakai gigi palsu lepasan, 65-88% pada orang
yang mengkonsumsi obat-obatan jangka panjang, 90% pada pasien leukemia akut
yang menjalani kemoterapi, dan 95% pada pasien HIV/AIDS
Penyakit ini kemudian
diteliti lagi oleh Pepy. Beliau melihat jamur itu pada
moniliasis/candidiasis/sariawan pada bayi yang disebutnya oral thrush,
sehingga ia menamakan jamur itu thrush fungus. Veron (1835)
menghubungkan penyakit pada bayi tersebut dengan infeksi pada saat dilahirkan
dengan sumber infeksi dari alat kandungan ibunya. Berg (1840) berkesimpulan
bahwa alat minum yang tidak bersih dan tangan perawat yang tercemar jamur
merupakan faktor penting dalam penyebarab infeksi ini. Berdasarkan bentuknya
yang bulat lonjong dan berwarna putih diberikanlah nama Oidium Albicans.
Nama oidium kemudian berubah menjadi monilia. Beberapa nama
peneliti mencoba mempelajarinya, antara lain Wilkinson yang menghubungkannya
dengan vaginatis. Akhirnya Berkhout (1923) menamakan jamur itu dalam genus
candida.
1.2
Rumusan Masalah
1)
Apa Anatomi dan
Fisiologi Candidiasis ?
2)
Apa Defenisi dari
Candidiasis ?
3)
Bagaimana Klasifisi
Candidiasis
4)
Apa Etiologi dan
Faktor Resiko Candidiasis ?
5)
Bagaimana Patogenesis
terjadinya Candidiasis?
6)
Bagaimana Manifestasi
knilis/Gejala Candidiasis ?
7)
Bagaimana Diagnosis
Candidiasis?
8)
Bagaimana
Penatalaksanaan Candidiasis?
9)
Bagaimana Pencegahan
Candidiasis?
1.3 Tujuan
1) Mengetahui Anatomi dan Fisiologi Candidiasis
2) Mengetahui Defenisi dari Candidiasis
3) Mengetahui Klasifikasi dari Candidiasis
4) Mengetahui Etiologi dan Faktor Resiko Candidiasis
5) Mengetahui Patogenesis terjadinya Candidiasis
6) Mengetahui Manifestasi knilis/Gejala Candidiasis
7) Mengetahui Diagnosis Candidiasis
8) Mengetahui Penatalaksanaan Candidiasis
9) Mengetahui Pencegahan Candidiasis
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Anatomi
Fisiologi
Mulut
Mulut merupakan suatu rongga
terbuka tempat masuknya makanan dan air pada hewan. Mulut terletak di kepala
dan umumnya merupakan bagian awal dari sistem pencernaan lengkap yang berakhir
di anus.
Mulut merupakan jalan masuk untuk
sistem pencernaan. Bagian dalam dari mulut dilapisi oleh selaput lendir.
Pengecapan dirasakan oleh organ perasa yang terdapat di permukaan lidah.
Pengecapan relatif sederhana, terdiri dari manis, asam, asin dan pahit.
Penciuman dirasakan oleh saraf olfaktorius di hidung dan lebih rumit, terdiri
dari berbagai macam bau.
Makanan dipotong-potong oleh gigi
depan (incisivus) dan di kunyah oleh gigi belakang (molar, geraham), menjadi
bagian-bagian kecil yang lebih mudah dicerna. Ludah dari kelenjar ludah akan
membungkus bagian-bagian dari makanan tersebut dengan enzim-enzim pencernaan
dan mulai mencernanya. Ludah juga mengandung antibodi dan enzim (misalnya
lisozim), yang memecah protein dan menyerang bakteri secara langsung. Proses
menelan dimulai secara sadar dan berlanjut secara otomatis.
2.2 Definisi
Kandidiasis adalah suatu infeksi jamur yang disebabkan oleh
candida. Candida merupakan mikroflora normal pada rongga mulut, mikroorganisme
ini mencapai 40-60 % dari populasi (Silverman S, 2001). Kandidiasis adalah
infeksi atau penyakit akibat jamur Candida, khususnya C. albicans.
Penyakit ini biasanya akibat debilitasi (seperti pada penekan imun dan
khususnya AIDS), perubahan fisiologis, pemberian antibiotika berkepanjangan,
dan hilangnya penghalang (Stedman, 2005). Walaupun demikian jamur tersebut
dapat menjadi patogen dalam kondisi tertentu atau pada orang-orang yang
mempunyai penyakit-penyakit yang melemahkan daya tahan tubuh sehingga
menimbulkan suatu penyakit misalnya, sering ditemukan pada penderita AIDS
(Farlane .M, 2002).
Pada rongga mulut kandida albikans merupakan spesies yang
paling sering menimbulkan penyakit. Secara klinis dapat ditemukan berbagai
penampilan berupa lesi putih atau lesi eritematus (Silverman S, 2001). Pada
keadaan akut kandidiasis dapat menimbulkan keluhan seperti rasa terbakar
(burning sensation), rasa sakit biasanya pada lidah, mukosa bukal, atau labial
dan rasa kering atau serostomia (Greenberg M. S., 2003). Pada umumnya infeksi
tersebut dapat di tanggulangi dengan menggunakan obat anti jamur baik secara
topikal atau sistemik dengan mempertimbangkan kondisi atau penyakit-penyakit
yang menyertainya. (Silverman S, 2001).
Kandidiasis oral atau mulut (juga dikenal sebagai sariawan)
adalah infeksi jamur ragi dari genus Candida pada membran berlendir mulut.
Infeksi oportunistik yang umum dari rongga mulut yang disebabkan oleh
pertumbuhan jamur yang berlebihan. Sariawan pada mulut bayi disebut
kandidiasis, sementara jika terjadi di mulut atau tenggorokan orang dewasa
diistilahkan candidosis atau moniliasis. Kandidiasis yang sering disebut juga
candidosis, trush, dan moniliasis merupakan suatu keadaan patologis yang hanya
menginfeksi jaringan kulit dan mukosa. Infeksi Candida yang berat tersebut
dikenal sebagai candidemia dan biasanya menyerang orang yang imunnya lemah,
seperti penderita kanker, AIDS dan pasien transplantasi.
Oral trush adalah adanya bercak putih pada lidah, langit –
langit dan pipi bagian dalam (Wong : 1995). Bercak tersebut sulit untuk
dihilangkan dan bila dipaksa untuk diambil maka akan mengakibatkan perdarahan.
Oral Trush ini sering disebut juga denagn oral candidiasis atau moniliasis, dan
sering terjadi pada masa bayi. Seiring dengan bertambahnya usia, angka kejadian
makin jarang, kecuali pada bayi yang mendapatkan pengobatan antibiotik atau
imunosupresif (Nelson, 1994: 638)
Oral Trush ini kadang sulit dibedakan dengan sisa susu,
terutama pada bayi yang mendapatkan susu formula (Pengganti air Susu Ibu –
PASI). Sisa susu yang berupa lapisan endapan putih tebal pada lidah bayi ini
dapat dibersihkan dengan kapas lidi yang dibasahi dengan air hangat. Oral trush
ini juga harus dengan stomatitis. Stomatitis merupakan inflamasi dan ulserasi
pada membran mukosa mulut. Anak yang mengalami stomatitius biasanya tidak mau
makan atau minum (M. Scharin, 1994: 448).
Kandidiasis oral ini memang sering terjadi pada bayi yang
berusia kurang dari 6 bulan, seiring dengan bertambah dewasanya bayi tersebut,
penyakit ini akan makin jarang terjadi. Penyakit ini juga bukan penyakit yang
serius dan beberapa sumber mengatakan bahwa penyakit ini dapat sembuh sendiri (walaupun
tentu saja lebih baik diobati).
2.3 Klasifikasi
1.
Thrush
Mempunyai ciri khas dimana gambarannya berupa plak putih kekuning-kuningan pada permukaan mukosa rongga mulut, dapat dihilangkan dengan cara dikerok dan akan meninggalkan jaringan yang berwarna merah atau dapat terjadi pendarahan. Plak tersebut berisi netrofil, dan sel-sel inflamasi sel epitel yang mati dan koloni atau hifa, (Greenberg M. S., 2003).
Mempunyai ciri khas dimana gambarannya berupa plak putih kekuning-kuningan pada permukaan mukosa rongga mulut, dapat dihilangkan dengan cara dikerok dan akan meninggalkan jaringan yang berwarna merah atau dapat terjadi pendarahan. Plak tersebut berisi netrofil, dan sel-sel inflamasi sel epitel yang mati dan koloni atau hifa, (Greenberg M. S., 2003).
Pada penderita AIDS biasanya lesi menjadi
ulserasi, pada keadaan dimana terbentuk ulser, invasi kandida lebih dalam
sampai ke lapisan basal (Mc Farlane 2002). Penyakit rongga mulut ini ditandai
dengan lesi-lesi yang bervariasi yaitu, lunak, gumpalan berupa bongkahan putih,
difus, seperti beludru yang dapat dihapus atau diangkat dan meninggalkan
permukaan merah, kasar, dan berdarah, dapat berupa bercak putih dengan putih
merah terutama pada bagian dalam pipi, pallatum lunak, lidah, dan gusi.
Penderita penyakit ini biasanya mempunyai keluhan terasa terbakar atau
kadang-kadang sakit didaerah yang terkena.
2. Kronis hiperplastik
kandidiasis
Infeksi jamur timbul pada
mukosa bukal atau tepi lateral lidah dan bibir, berupa bintik-bintik putih yang
tepinya menimbul tegas dengan beberapa daerah merah. Kondisi ini dapat
berkembang menjadi displasia berat atau keganasan. Kandidiasis tipe ini disebut
juga kandidiasis leukoplakia, lesinya berupa plak putih yang tidak dapat
dikerok, gambaran ini mirip dengan leukoplakia tipe homogen. (Greenberg.2003).
Karena plak tersebut tidak dapat dikerok, sehingga diagnosa harus ditentukan
dengan biopsi. Keadaan ini terjadi diduga akibat invasi miselium ke lapisan
yang lebih dalam pada mukosa rongga mulut, sehingga dapat berproliferasi,
sebagai respon jaringan inang. (Greenberg M 2003). Kandidiasis ini paling
sering diderita oleh perokok.
3.
Kronis atrofik kandidiasis
Disebut juga “denture
stomatitis” atau “alergi gigi tiruan”. Mukosa palatum maupun mandibula yang
tertutup basis gigi tiruan akan menjadi merah, kondisi ini dikategorikan
sebagai bentuk dari infeksi Kandida. Kandidiasis ini hampir 60% diderita oleh
pemakai gigi tiruan terutama pada wanita tua yang sering memakai gigi tiruan
pada waktu tidur. Secara klinis kronis atrofik kandidiasis dapat dibedakan
menjadi tiga tipe yaitu :
1)
Inflamasi ringan yang terlokalisir disebut juga pinpoint hiperemi,
gambaran eritema difus, terlihat pada palatum yang ditutupi oleh landasan
geligi tiruan baik sebagian atau seluruh permukaan palatum tersebut (15%-65%)
dan hiperplasi papilar atau disebut juga tipe granular (Greenberg, 2003).
2)
Akut atrofik kandidiasis atau disebut juga antibiotik sore mouth.
Secara klinis permukaan mukosa terlihat merah dan kasar, biasanya disertai
gejala sakit atau rasa terbakar, rasa kecap berkurang. Kadang-kadang sakit
menjalar sampai ke tenggorokan selama pengobatan atau sesudahnya kandidiasis
tipe ini pada umumnya ditemukan pada penderita anemia defiensi zat besi.
(Greenberg, 2003).
3)
Angular cheilitis, disebut juga perleche, terjadinya di duga
berhubungan dengan denture stomatits. Selain itu faktor nutrisi memegang peranan
dalam ketahanan jaringan inang, seperti defisiensi vitamin B12, asam folat dan
zat besi, hal ini akan mempermudah terjadinya infeksi. Gambaran klinisnya
berupa lesi agak kemerahan karena terjadi inflamsi pada sudut mulut (commisure)
atau kulit sekitar mulut terlihat pecah-pecah atau berfissure. (Nolte, 1982.
Greenberg, 2003).
2.4 Etiologi/Faktor
Resiko
Penyebab
tersering Candidiasis adalah Candida albicans. Spesies
patogenik yang lainnya adalah C. tropicalis C. parapsilosis, C.
guilliermondii C. krusei, C. pseudotropicalis, C. lusitaneae. Genus Candida
adalah grup heterogen yang terdiri dari 200 spesies jamur. Sebagian besar dari
spesies candida tersebut patogen oportunistik pada manusia, walaupun mayoritas
dari spesies tersebut tidak menginfeksi manusia. C. albicans adalah
jamur dimorfik yang memungkinkan untuk terjadinya 70-80% dari semua infeksi
candida, sehingga merupakan penyebab tersering dari candidiasis superfisial dan
sistemik.
Jamur jenis ini adalah jamur yang
sangat umum terdapat di sekitar kita dan tidak berbahaya pada orang yang
mempunyai imun tubuh yang kuat. Candida ini baru akan menimbulkan masalah pada
orang-orang yang mempunyai daya tahan tubuh rendah, misalnya penderita AIDS,
pasien yang dalam pengobatan kortikosteroid, dan tentu saja bayi yang sistem
imunnya belum sempurna.
Jamur Candida ini adalah jamur yang
banyak terdapat di sekitar kita, bahkan di dalam vagina ibu pun terdapat jamur
Candida. Bayi bisa saja mendapatkan jamur ini dari alat-alat seperti dot dan
kampong, atau bisa juga mendapatkan Candida dari vagina ibu ketika persalinan.
Selain itu, kandidiasis oral ini juga dapat terjadi akibat keadaan mulut bayi
yang tidak bersih karena sisa susu yang diminum tidak dibersihkan sehingga akan
menyebabkan jamur tumbuh semakin cepat.
Faktor-faktor yang merupakan presdiposisi infeksi antara
lain :
1.
HIV/AIDS
Virus human immunodeficiency (HIV) merupakan
virus penyebab AIDS, yang dapat menimbulkan kerusakan atau menghancurkan
sel-sel sistem kekebalan tubuh. Sehingga membuat tubuh lebih rentan terhadap
infeksi oportunistik yang biasanya tubuh akan menolak. Serangan berulang dari
oral trush mungkin merupakan tanda pertama dari infeksi HIV.
2.
Kanker
Jika seseorang menderita kanker, sistem
kekebalan tubuhnya mungkin akan melemah oleh karena penyakit kanker tersebut
dan karena perawatan penyakit, seperti kemoterapi dan radiasi. Penyakit kanker
dan perawatan penyakit ini dapat meningkatkan risiko infeksi Candida seperti
oral thrush
3.
Diabetes Mellitus
Jika seseorang menderita diabetes yang tidak
diobati atau diabetes yang tidak terkontrol dengan baik, air liur (saliva)
mungkin akan mengandung sejumlah besar gula, sehingga dapat mendorong
pertumbuhan candida.
4.
Infeksi jamur vagina
Infeksi jamur vagina yang disebabkan oleh
jamur yang sama dapat menyebabkan candidiasis mulut. Meskipun infeksi jamur
tidak berbahaya, jika seseorang sedang hamil maka jamur dapat menular pada bayi
selama persalinan. Akibatnya, bayi tersebut juga dapat mengalami oral thrush.
5.
Pemakaian kortikosteroid atau terapi imunosupresan pasca
pencangkokan organ. Kedua hal ini bisa menurunkan pertahanan tubuh terhadap
infeksi jamur. Kortikosteroid (sejenis hormon steroid) dihirup/dihisap untuk
perawatan pada paru-paru (misalnya asma) bisa berdampak pada kandidiasis mulut.
6.
Pemakaian antibiotik
Kadang orang yang mengkonsumsi antibiotik
menderita infeksi Candida karena antibiotik membunuh bakteri yang dalam keadaan
normal terdapat di dalam jaringan, sehingga pertumbuhan Candida tidak
terkendali.
7.
Leukimia
8.
Gangguan saluran
gastrointestinal yang meningkatkan terjadinya malabsorpsi dan malnutrisi.
2.5 Patologis
Kelainan yang disebabkan oleh spesies
kandida ditentukan oleh interaksi yang komplek antara patogenitas fungi dan
mekanisme pertahanan pejamu.
Þ
Faktor penentu patogenitas kandida adalah :
1.
Spesies
Genus
kandida mempunyai 200 spesies, 15 spesies dilaporkan dapat menyebabkan proses
pathogen pada manusia. C. albicans adalah kandida
yang paling tinggi patogenitasnya.
2.
Daya lekat
Bentuk hifa dapat melekat
lebih kuat daripada germtube, sedang germtube melekat
lebih kuat daripada sel ragi. Bagian terpenting untuk melekat adalah suatu
glikoprotein permukaan atau mannoprotein. Daya lekat juga dipengaruhi oleh suhu lingkungan.
3.
Dimorfisme
C. albicans merupakan
jamur dimorfik yang mampu tumbuh dalam kultur sebagai blastospora dan sebagai
pseudohifa. Dimorfisme terlibat dalam patogenitas kandida. Bentuk blastospora
diperlukan untuk memulai suatu lesi pada jaringan dengan mengeluarkan enzim
hidrolitik yang merusak jaringan. Setelah terjadi lesi baru
terbentuk hifa yang melakukan invasi.
4.
Toksin
Toksin glikoprotein mengandung mannan sebagai komponen
toksik. Glikoprotein khususnya mannoprotein berperan sebagai adhesion dalam
kolonisasi jamur. Kanditoksin sebagai protein intraseluler diproduksi
bila C. albicans dirusak secara mekanik.
5.
Enzim
Enzim diperlukan untuk melakukan invasi. Enzim yang
dihasilkan oleh C. albicans ada 2 jenis yaitu proteinase dan
fosfolipid.
Þ
Mekanisme pertahanan pejamu :
1)
Sawar
mekanik : Kulit normal sebagai sawar mekanik terhadap invasi kandida. Kerusakan
mekanik pertahanan kulit normal merupakan faktor predisposisi terjadinya
kandidiasis.
2)
Substansi
antimikrobial non spesifik : Hampir semua hasil sekresi dan cairan dalam
mamalia mengandung substansi yang bekerja secara non spesifik menghambat atau
membunuh mikroba.
3)
Fagositosis
dan intracellular killing : Peran sel PMN dan makrofag
jaringan untuk memakan dan membunuh spesies kandida merupakan mekanisme yang
sangat penting untuk menghilangkan atau memusnahkan sel jamur. Sel ragi merupakan
bentuk kandida yang siap difagosit oleh granulosit. Sedangkan pseudohifa karena
ukurannya, susah difagosit. Granulosit dapat juga membunuh elemen miselium
kandida. Makrofag berperan dalam melawan kandida melalui pembunuhan
intraseluler melalui system mieloperoksidase (MPO).
4) Respon imun spesifik : imunitas seluler memegang peranan
dalam pertahanan melawan infeksi kandida. Terbukti dengan ditemukannya defek
spesifik imunitas seluler pada penderita kandidiasi mukokutan kronik,
pengobatan imunosupresif dan penderita dengan infeksi HIV. Sistem imunitas
humoral kurang berperan, bahkan terdapat fakta yang memperlihatkan titer
antibodi antikandida yang tinggi dapat menghambat fagositosis.
Þ
Mekanisme
imun seluler dan humoral :
Tahap pertama timbulnya kandidiasis kulit adalah
menempelnya kandida pada sel epitel disebabkan adanya interaksi antara glikoprotein permukaan
kandida dengan sel epitel. Kemudian kandida mengeluarkan zat keratinolitik
(fosfolipase), yang menghidrolisis fosfolipid membran sel epitel. Bentuk
pseudohifa kandida juga mempermudah invasi jamur ke jaringan. Dalam jaringan
kandida mengeluarkan faktor kemotaktik neutrofil yang akan menimbulkan reaksi
radang akut.
Lapisan luar kandida mengandung mannoprotein yang
bersifat antigenik sehingga akan mengaktifasi komplemen dan merangsang
terbentuknya imunoglobulin. Imunoglobulin ini akan membentuk kompleks
antigen-antibodi di permukaan sel kandida, yang dapat melindungi kandida dari
fungsi imunitas tuan rumah. Selain itu kandida juga akan mengeluarkan zat
toksik terhadap netrofil dan fagosit lain.
Þ
Mekanisme
non imun :
Interaksi
antara kandida dengan flora normal kulit lainnya akan mengakibatkan persaingan
dalam mendapatkan nutrisi seperti glukosa. Menempelnya mikroorganisme dalam
jaringan sel pejamu menjadi syarat mutlak untuk berkembangnya infeksi.
Secara
umum diketahui bahwa interaksi antara mikroorganisme dan sel pejamu
diperantarai oleh komponen spesifik dari dinding sel mikroorganisme, adhesin
dan reseptor. Manan dan manoprotein merupakan molekul-molekul Candida
albicans yang mempunyai aktifitas adhesif. Khitin, komponen kecil yang
terdapat pada dinding sel Candida albicans juga berperan dalam
aktifitas adhesif. Pada umumnya Candida albicans berada dalam
tubuh manusia sebagai saproba dan infeksi baru terjadi bila terdapat faktor
predisposisi pada tubuh pejamu.
Þ Faktor
predisposisi terjadinya infeksi ini meliputi faktor endogen maupun eksogen,
antara lain :
1) Faktor
endogen :
a. Perubahan fisiologik
1. Kehamilan, karena perubahan pH dalam vagina
2. Kegemukan, karena banyak keringat
3. Debilitas
4. Iatrogenik
5. Endokrinopati, gangguan gula darah kulit
6. Penyakit kronik : tuberkulosis, lupus eritematosus dengan
keadaan umum yang buruk.
b. Umur : orang tua dan bayi lebih sering terkena infeksi
karena status imunologiknya tidak sempurna.
c. Imunologik : penyakit genetik.
2) Faktor eksogen :
a. Iklim, panas, dan kelembaban menyebabkan perspirasi
meningkat
b. Kebersihan kulit
c. Kebiasaan berendam kaki dalam air yang terlalu lama
menimbulkan maserasi dan memudahkan masuknya jamur.
d. Kontak dengan penderita, misalnya pada thrush,
balanopostitis.
Faktor predisposisi berperan dalam meningkatkan
pertumbuhan Candida albicans serta memudahkan invasi jamur ke dalam jaringan
tubuh manusia karena adanya perubahan dalam sistem pertahanan tubuh.
Blastospora berkembang menjadi hifa semu dan tekanan dari hifa semu tersebut
merusak jaringan, sehingga invasi ke dalam jaringan dapat terjadi. Virulensi
ditentukan oleh kemampuan jamur tersebut merusak jaringan serta invasi ke dalam
jaringan. Enzim-enzim yang berperan sebagai faktor virulensi adalah enzim-enzim
hidrolitik seperti proteinase, lipase dan fosfolipase.
Pada manusia, Candida albicans sering ditemukan di dalam
mulut, feses, kulit dan di bawah kuku orang sehat. Candida albicans dapat
membentuk blastospora dan hifa, baik dalam biakan maupun dalam tubuh. Bentuk
jamur di dalam tubuh dianggap dapat dihubungkan dengan sifat jamur, yaitu
sebagai saproba tanpa menyebabkan kelainan atau sebagai parasit patogen yang
menyebabkan kelainan dalam jaringan. Penyelidikan lebih lanjut membuktikan
bahwa sifat patogenitas tidak berhubungan dengan ditemukannya Candida albicans
dalam bentuk blastospora atau hifa di dalam jaringan. Terjadinya kedua bentuk
tersebut dipengaruhi oleh tersedianya nutrisi, yang dapat ditunjukkan pada
suatu percobaan di luar tubuh. Pada keadaan yang menghambat pembentukan tunas
dengan bebas, tetapi yang masih memungkinkan jamur tumbuh, maka dibentuk hifa.
Rippon (1974) mengemukakan bahwa bentuk blastospora
diperlukan untuk memulai suatu lesi pada jaringan. Sesudah terjadi lesi,
dibentuk hifa yang melakukan invasi. Dengan proses tersebut terjadilah reaksi
radang. Pada kandidosis akut biasanya hanya terdapat blastospora, sedang pada
yang menahun didapatkan miselium. Kandidosis di permukaan alat dalam biasanya
hanya mengandung blastospora yang berjumlah besar, pada stadium lanjut tampak
hifa. Hal ini dapat dipergunakan untuk menilai hasil pemeriksaan bahan klinik,
misalnya dahak, urin untuk menunjukkan stadium penyakit. Kelainan jaringan yang
disebabkan oleh Candida albicans dapat berupa peradangan, abses kecil atau
granuloma.
Pada kandidosis sistemik, alat dalam yang terbanyak
terkena adalah ginjal, yang dapat hanya mengenai korteks atau korteks dan
medula dengan terbentuknya abses kecil-kecil berwarna keputihan. Alat dalam
lainnya yang juga dapat terkena adalah hati, paru-paru, limpa dan kelenjar
gondok. Mata dan otak sangat jarang terinfeksi. Kandidosis jantung berupa
proliferasi pada katup-katup atau granuloma pada dinding pembuluh darah koroner
atau miokardium. Pada saluran pencernaan tampak nekrosis atau ulkus yang
kadang-kadang sangat kecil sehingga sering tidak terlihat pada pemeriksaan
2.6 Manifestasi
Klinis/Gejala
Gejala yang timbul adalah adanya bercak putih pada lidah
dan sekitar mulut bayi dan sering menimbulkan nyeri. Bercak putih ini sekilas
tampak seperti kerak susu namun sulit dilepaskan dari mulut dan lidah bayi.
Bila dipaksa dikerok, tidak mustahil justru lidah dan mulut bayi dapat
berdarah. Infeksi mulut oleh spesies candida biasanya memunculkan kumpulan
lapisan kental berwarna putih atau krem pada membran mukosa (dinding mulut
dalam). Pada mukosa mulut yang terinfeksi mungkin muncul radang berwarna merah,
nyeri, dan terasa seperti terbakar.
Secara umum kandidiasis pada mulut
bayi tidak berbahaya dan dapat sembuh sendiri (walaupun lebih baik diobati).
Namun bukan berarti kandidiasis ini tidak dapat menyebabkan penyakit lain.
Kandidiasis dapat menyebabkan bayi menangis saat makan dan minum (kebanyakan
disebabkan karena nyeri), selain itu, bayi menjadi malas minum ASI sehingga
berat badannya tak kunjung bertambah. Candida pada mulut bayi juga dapat
bermigrasi ke organ lain bila ada faktor yang memperberat (misalnya pemakaian
antibiotik jangka panjang).
1.
Pada anak-anak dan dewasa
Awalnya, seseorang mungkin tidak menyadari
gejala oral trush. Tergantung pada penyebab, tanda dan gejala dapat terjadi
tiba-tiba dan bertahan untuk waktu yang lama. Gejala-gejala tersebut, antara
lain:
a.
Lesi putih atau krem di lidah, pipi bagian dalam, langit-langit
mulut, gusi, dan amandel (tonsil)
b.
Lesi menyerupai keju
c.
Nyeri
d.
Sedikit perdarahan jika lesi digosok atau tergores
e.
Pecah-pecah dan kemerahan pada sudut mulut (terutama pada pemakai
gigi tiruan)
f.
Sensasi seperti terdapat kapas pada mulut
g.
Kehilangan selera makan
Pada kasus yang berat, lesi dapat menyebar ke bawah ke
kerongkongan dan esofagus (Candida esophagitis). Jika hal ini terjadi, pasien
mungkin akan mengalami kesulitan menelan atau merasa seolah-olah makanan
terjebak di tenggorokan.
2.
Pada bayi dan ibu menyusui
Selain lesi mulut khas
berwarna putih, bayi mungkin juga memiliki kesulitan makan atau rewel dan mudah
marah. Bayi dapat menularkan infeksi tersebut kepada ibu mereka selama
menyusui. Wanita yang payudaranya terinfeksi candida mungkin mengalami
tanda-tanda dan gejala, antara lain:
a. Puting berwarna sangat
merah, sensitif, dan gatal
b. Terdapat serpihan
kulit di daerah berwarna gelap yang melingkari puting (areola)
c. Puting terasa sakit
saat menyusui
d. Sakit yang tajam jauh
di dalam payudara
2.7 Diagnosis
Dalam menegakkan diagnosis
kandidiasis, maka dapat dibantu dengan adanya pemeriksaan penunjang, antara
lain :
1. Pemeriksaan
langsung
Kerokan
kulit atau usapan mukokutan diperiksa dengan larutan KOH 10 % atau dengan
pewarnaan gram, terlihat sel ragi, blastospora, atau hifa semu
2. Pemeriksaan
biakan
Bahan
yang akan diperiksa ditanam dalam agar dekstrosa glukosa Sabouraud, dapat pula
agar ini dibubuhi antibiotik (kloramfenikol ) untuk mencegah pertumbuhan
bakteri. Perbenihan disimpan dalam suhu kamar atau lemari suhu 370C,
koloni tumbuh setelah 24-48 jam, berupa yeast like colony. Identifikasi Candida
albicans dilakukan dengan membiakkan tumbuhan tersebut pada corn
meal agar.
Beberapa penunjang lain :
1.
Laboratorium : ditemukan adanya jamur candida albicans pada swab
mukosa
2.
Pemeriksaan endoskopi : hanya diindikasikan jika tidak terdapat
perbaikan dengan pemberian flukonazol.
3.
Dilakukan pengolesan lesi dengan toluidin biru 1% topikal dengan
swab atau kumur.
4.
Diagnosa pasti dengan biopsi
DIAGNOSIS
BANDING
Diagnosis
banding dari kandidiasis antara lain :
1.
Kandidosis kutis lokalisata dengan :
a.
Eritrasma
b.
Dermatitis intertriginosa
c.
Dermatofitosis (tinea)
2.
Kandidosis kuku dengan tinea unguium
3.
Kandidosis vulvovaginitis dengan :
a.
Trikomonas vaginalis
b.
Gonore akut
c.
Leukoplakia
d.
Liken planus
2.8 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan untuk kandidiasis antara lain :
1.
Menghindari atau menghilangkan faktor
predisposisi,
2.
Topikal
Obat topical untuk kandidiasis meliputi:
Obat topical untuk kandidiasis meliputi:
a.
Larutan ungu gentian ½-1% untuk selaput
lendir, 1-2% untuk kulit, dioleskan sehari 2 kali selama 3 hari,
b.
Nistatin:
berupa krim, salap, emulsi,
c.
Amfoterisin
B,
d.
Grup
azol antara lain:
1) Mikonazol 2%
berupa krim atau bedak
2) Klotrimazol 1% berupa
bedak, larutan dan krim
3) Tiokonazol,
bufonazol, isokonazol
4) Siklopiroksolamin
1% larutan, krim
5) Antimikotik
yang lain yang berspektrum luas.
3.
Sistemik
a.
Tablet nistatin untuk menghilangkan infeksi
fokal dalam saluran cerna, obat ini tidak diserap oleh usus.
b.
Amfoterisin B diberikan intravena untuk
kandidosis sistemik
c.
Untuk kandidosis vaginalis dapat diberikan
kotrimazol 500 mg per vaginam dosis tunggal, sistemik dapat diberikan
ketokonazol 2 x 200 mg selama 5 hari atau dengan itrakonazol 2 x 200 mg dosis
tunggal atau dengan flukonazol 150 mg dosis tunggal.
d. Itrakonazol
bila dipakai untuk kandidosis vulvovaginalis dosis untuk orang dewasa 2 x 100
mg sehari selama 3 hari.
4.
Khusus:
1)
Kandidiasis intertriginosa
Pengobatan ditujukan untuk
menjaga kulit tetap kering dengan penambahan bedak nistatin topikal,
klotrimazol atau mikonazol 2 kali sehari. Pasien dengan infeksi yang luas
ditambahkan dengan flukonazol oral 100 mg selama 1-2 minggu atau itrokonazol
oral 100 mg 1-2 minggu.
2)
Diaper disease
Mengurangi waktu area
diaper terpapar kondisi panas dan lembab. Pengeringan udara, sering mengganti
diaper dan selalu menggunakan bedak bayi atau pasta zinc oxide merupakan
tindakan pencegahan yang adekuat. Terapi topikal yang efektif yaitu dengan
nistatin, amfoterisin B, mikonazol atau klotrimazol.
3)
Paronikia
Pengobatan dengan obat
topikal biasanya tidak efektif tetapi dapat dicoba untuk paronikia kandida yang
kronis. Solusio kering atau solusio antifungi dapat digunakan.Terapi oral yang
dianjurkan dengan itrakonazol atau terbinafin.
Grup azole adalah obat antimikosis sintetik yang
berspektrum luas. Termasuk ketokonazol, mikonazol, flukonazol, itrakonazol dan
ekonazol. Mekanisme kerja dari grup azole adalah menghambat sintesis dari
ergosterol mengubah cairan membran sel dan mengubah kerja enzim membran.
Hasilnya dalam penghambatan replikasi dan penghambatan transformasi
bentuk ragi ke bentuk hifa yang merupakan bentuk invasive dan patogenik dari
parasit.
Nistatin dan amfoterisin adalah polyene yang
aktif melawan beberapa fungi tapi hanya bekerja sedikit pada sel mamalia dan
tidak bekerja pada bakteri. Obat ini mengikat membrane sel dan menghalangi
fungsi permeabilitas dan transport. Terbinafine adalah alinamine yang merupakan
fungisida jangkauan yang luas pada kulit pathogen. Obat ini menghambat
epoxidase yang terlibat dalam sintesis ergosterol dari bagian dinding sel
jamur.
.
2.9 Pencegahan
Pencegahan yang dapat dilakukan pada klien dengan
candidiasis oral antara lain :
1.
Oral hygiene yang baik
2.
Utamakan ASI daripada susu formula karena ASI mengandung banyak
immunoglobulin yang berguna bagi kekebalan tubuh bayi. Selain itu, payudara ibu
juga jauh lebih terjamin kebersihannya daripada botol dot bayi
3.
Bila menggunakan susu formula sebagai tambahan ASI, pastikan
kebersihan botol dan dotnya, jangan lupa untuk mencucinya dengan air panas
4.
Beri bayi minum 2-5 sendok air hangat untuk membilas mulut bayi
setelah minum susu
5.
Pastikan bayi beristirahat yang cukup
6.
Berikan bayi makanan yang mengandung nutrisi yang lengkap
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Kandidiasis adalah
infeksi atau penyakit akibat jamur Candida, khususnya C. albicans.
Penyakit ini biasanya akibat debilitasi (seperti pada penekan imun dan
khususnya AIDS), perubahan fisiologis, pemberian antibiotika berkepanjangan,
dan hilangnya penghalang (Stedman, 2005). Kandidiasis meliputi infeksi yang
berkisar dari yang ringan seperti sariawan mulut dan vaginitis, sampai yang
berpotensi mengancam kehidupan manusia. Infeksi Candida yang berat tersebut
dikenal sebagai candidemia dan biasanya menyerang orang yang imunnya lemah,
seperti penderita kanker, AIDS dan pasien transplantasi.
Moniliasis atau
kandidiasis sering disebabkan oleh 3 hal yaitu: jamur candida albicans, keadaan
hormonal (diabetes, kehamilan), dan faktor lokal (tidak adanya gigi, gigi palsu
yang tidak pas). Infeksi mulut oleh spesies candida biasanya memunculkan
kumpulan lapisan kental berwarna putih atau krem pada membran mukosa (dinding
mulut dalam). Pada mukosa mulut yang terinfeksi mungkin muncul radang berwarna
merah). Candida albicans yang bermetastase dapat menjalar ke esofagus, usus
halus, usus besar dan anus. Infeksi sistemik lainnya berupa abses hati dan
otak.
DAFTAR PUSTAKA
Doengoes, Marilynn. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan.
Jakarta: EGC.
Wong,Donna. 2009. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik. Jakarta
: EGC.
Dorland, W. A. Newman. 2002. Kamus Kedokteran. EGC :
Jakarta.
FKUI. 1999. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid 1. FKUI :
Jakarta.
http://jurnalbidandiah.blogspot.com/2012/04/candidiasis-vaginalis.html
http://ridhoirwanto.blogspot.com/2011/11/askep-candidiasis.html
http://prasetya92metro.blogspot.com/2011/11/makalah-individu-sistem-pencernaan-oral.html
http://medical-kesehatan.blogspot.com/2009/09/kandidiasis.html
http://xbudi-xbudi.blogspot.com/2011/12/makalah-candidiasis.html
http://artikelkesehatantubuh.blogspot.com/2011/12/penyakit-kandidiasis.html